“Walaupun miskin, tapi ingin cucu ibu bisa sekolah di sekolah yang bagus.”

– Ibu Mae, Tukang Nasi Uduk, Ciwaru-Serang –

Ibu Mae, saat ngobrol denganku 2008. Kini warungnya sudah tutup. hiks...Ibu Mae, saat ngobrol denganku 2008. Kini warungnya sudah tutup. hiks… 

Biasanya kalau perjalanan pagiku melewati Serang, aku sempatkan mampir ke Kedai Bu Mae di Ciwaru Serang, Banten. Nasi Uduknya pas banget buat sarapan. Mungkin karena seringnya mampir, bu Mae penasaran juga untuk mengenalku. Iapun duduk di depanku yang sedang asyik menikmati masakannya.

“Kerja proyek ya, pak?” Pertanyaan pembuka dari Bu Mae yang selalu ramah.

“Nggak bu, jalan-jalan saja, kok.”

“Perasaan, sering sarapan di sini?” konfirmasinya.

“Benar, habis masakan ibu enak banget, sih.” Bukan pujian, melainkan fakta.

“Kalo kerja di proyek, boleh dong ajak anak saya. Sudah lama nganggur, jadinya ngebantuin ibu saja di sini.” Pintanya. Anak lelaki yang dimaksud adalah yang selalu membuatkanku teh manis panas.

“Wah maaf bu, saya bukan orang proyek. Saya cuma tukang serpis panggilan. Tapi kalo anak Ibu mengerti reparasi komputer. Bisa saja ikutan.”

“Anak saya nggak bisa komputer. Sejak lulus SMA kerja di pabrik, setelah di PHK, nganggur sampai sekarang.” Sedih juga melihat tatapan penuh harap bu Mae yang tak bisa aku luluskan.

“Memang bapak tinggal dimana?” bu Mae ingin tahu rupanya.

“Saya orang hutan, bu. Tinggal di Hutan Cihideung, Cinangka.”

“Jauh banget dari sini. Kalo nggak salah, di sana ada pesantren bagus ya?” Rupanya bu Mae pernah dengar tentang sebuah pesantren yang ada di lingkungan rumahku. Aku memang tinggal di kompleks pesantren itu.

“Biaya masuk pesantren di sana berapa? Saya kepingin mesantrenin cucu.”

“Uang pangkalnya 10 jutaan. Biaya bulanannya 1 jutaan.” Kujawab apa adanya.

“waduh, pasti pendidikannya bagus. Tapi ibu mah nggak bakalan sanggup deh. Ibu kira pesantrennya murah dan bisa ngasih beasiswa buat anak yatim atau orang miskin.” Jeledar!!! Hatiku seperti meledak mendengarnya. Ibu Mae sudah tua, tapi masih punya kepentingan untuk pendidikan cucunya. Sayang sekali kemiskinan membuatnya langsung mundur.

“Memang sekolah yang mahal itu sudah pasti bagus, bu?” tanyaku sambil melanjutkan makan.

“Ya, biasanya kan begitu. Buat apa orang tua bayar mahal kalau tidak bagus.” Jawabnya.

“Tapi kalau menurut saya, sih. Belum tentu juga, bu. Buktinya banyak anak-anak orang kaya yang sekolah di sekolah mahal, tapi tetap saja setelah lulus, jadi berandal, kriminal, dan terlibat Narkoba.” Aku mencoba mengubah persepsinya tentang sekolah yang bagus itu tidak harus mahal.

“Benar juga sih, tapi, umumnya yang mahal itu, pasti pendidikannya lengkap.” Ia mengubah kata bagus menjadi lengkap.

“Kalau masalah kelengkapan fasilitas, saya setuju, bu. Tapi kalau kualitas, kan ukurannya bukan pada biaya.” Ungkapku.

“Kalau ibu sih, orang miskin. Tahunya, yang mahal itu yang paling bagus.” Alasannya.

“Bagus tidaknya anak sekolah, bukan di sekolahan bu, tapi di rumah. Percuma anak kita sekolahkan mahal-mahal tapi di rumah tidak dididik. Ya, nggak?”

“Iya, ibu setuju. Tapi, tetap saja, walaupun ibu miskin, tapi kepingin cucu ibu bisa sekolah di sekolah yang bagus. Biar bisa merasakan pendidikan yang lengkap.” Masih tetap kuat keinginannya. Mungkin karena ia begitu mencintai cucunya, walau tanpa daya.

Anggapan orang, bahwa orang-orang miskin memiliki kesadaran pendidikan yang rendah, tak terlihat pada sosok bu Mae. Ia punya impian yang mulia buat cucunya, tapi iapun sadar, tak sanggup membiayai impiannya tersebut.

Banyak orang mengira bahwa untuk mencetak generasi yang hebat, harus disekolahkan di sekolah yang biayanyapun hebat. Padahal, sehebat apapun sekolahnya, anak tak akan menjadi pribadi yang hebat jika tak mendapatkan asuhan yang hebat dari orang tuanya di rumah.

Jangan terlalu berharap banyak dari sekolah. Banyak orang-orang kaya sanggup menyekolahkan anaknya di sekolah mahal. Tapi tetap saja anak-anaknya tak menjadi anak yang diharapkan oleh orang tuanya. Kuncinya adalah, bukan seberapa besar biaya pendidikan yang harus kita keluarkan untuk sekolah, tapi seberapa besar kepedulian kita untuk mendidiknya di rumah.

sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2010/08/02/pendidikan-murah-hanyalah-impian/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

Bergabunglah dengan 4 pengikut lainnya

Blog Stats

  • 10,795 hits
%d blogger menyukai ini: